Rahasia Hati -3-

Sudah hampir 3 hari Raisya sakit. Dan selama itu pula, Danu rajin menanyakan keadaan Raisya padaku. Sempat cemburu akan sikap Danu yang berlebih pada Raisya, namun bahagia pula karena dengan itu dapat menambah keakrabanku dengan Danu. Tiap hari dia mengirim pesan, setiap bertemu juga slalu menanyakan detail penyakit yang diderita raisya dan bahkan siang ini kita berencana untuk menjenguknya. Karena tadi pagi aku mendapat kabar dari mamahnya Raisya, bahwa sahabatku itu masuk Rumah sakit.
***
Lonceng sekolah telah berbunyi 15 menit yang lalu. Tapi belum ada tanda-tanda bahwa Danu aku datang. Ya, aku memang sedang menunggunya di koridor sekolah. Kita akan berangkat bersama ke Rumah Sakit. sulit dipercaya memang, bahwa aku akan pergi berdua bersama Danu. Tapi yang pasti jantungku sudah tak karuan sejak detik dimana dia mengajakku malam itu. 10 menit kemudian saat aku baru saja mengirim pesan pada ibu bahwa aku akan pulang sore, ada yang memarkirkan motor di depanku. Dan tak salah lagi sang pemilik motor itu Danu.
“ran, maaf ya telat. Tadi ada urusan dulu sama Bu shofie. Udah lama nunggu?” ucapnya. “oh iya gapapa. Ngga kok, aku juga baru dateng. Nyantai aja” balasku sedikit berbohong.
“oke, yuk kita langsung jalan aja, biar nanti pulangnya ga kesorean” ajaknya. “baiklah”
aku pun bergegas naik di jok penumpang motornya. Kitapun beranjak dari koridor sekolah menuju rumah sakit.
***
Anggapan orang tentang Danu yang dingin dan cuek, Ternyata salah. Nyatanya selama perjalanan menuju rumah sakit, dia selalu membuka obrolan-obrolan ringan diselingi gurauan yang lucu. “kamu kenapa bisa sahabatan sama Raisya, Dan? Diakan bawelnya ga ketulungan, ceroboh lagi” tanyaku. “yang namanya sahabatan kan ga butuh alasan Ran. Lagian aku juga sama kayak Raisya begitu. Bahkan bisa dibilang lebih malah” jawabnya sambil terkekeh pelan. “ohya? kalo sama-sama bawel berarti nanti pas di rumah sakit pasti berisiknya minta dibayarin deh” ujarku kembali. “yeee kunyuk, bukannya minta dibayarin, tapi minta dipacarin eh maksudnya dipisahin soalnya kita ga bakal berenti sampe mulut berbusa juga” jawabnya sambil tertawa. -Duh ketawanya renyah banget sih- Eh tunggu apa kata dia tadi, dipacarin? Sama siapa?
***
Dan benar saja. Di rumah sakit Raisya dan Danu tak berhenti saling mengejek dan beradu mulut. Tapi aku tahu itu hanya gurauan saja, mungkin cara mereka melepas kangen. Mereka memang lucu. Akupun tak luput dari bahan obrolan mereka.
Dari hasil pemeriksaan dokter, diketahui bahwa Raisya terkena penyakit maag yang serius. Aku kaget mendengarnya. Setahuku Raisya selalu menjaga makanannya. Sempat terlihat olehku raut wajah Danu menggambarkan kekhawatiran, tapi itu tidak berlangsung lama. Sesegera mungkin wajah Danu ceria kembali dan mulai menggoda Raisya lagi. -Ah memang sahabat yang lengket, pikirku- walau ada sedikit rasa cemburu.

***

Aku pulang kerumah diantar oleh Danu. Anehnya sikap Danu saat pulang menjadi dingin, tidak banyak bicara. Entah apa yang membuatnya seperti ini. Yang pasti dia jadi begini setelah dia berbicara berdua saja dengan Raisya tadi sebelum pulang. Aku tidak ingin mempermasalahkan hal ini. Mungkin karena terlalu lelah dan pastinya tidak mau mencampuri urusan Danu.
“Ran udah nyampe nih. Yang inikan rumah loe?” kagetnya. Aku tersentak karena tadi sempat melamun. “ah iya ya, makasih ya Dan, udah repot-repot nganterin aku” ucapku sembari turun dari motor. “ya sama-sama. Ngga kok. Kalo gitu gue pulang yah. Makasih juga udah nemenin gue jenguk Raisya”pamitnya. “ah iya gapapa, oh ya hati-hati Dan” ujarku.
“oke”
dia pun beranjak pergi dari halaman rumahku.
“Terima Kasih Harinya, Danu”

*bersambung*

Advertisements

Rahasia Hati -2-

–ketika harapan mendekat, mampukah aku mendekapnya? atau malah harus melepasnya, karena semua itu semu adanya–

Lelaki itu akrab dipanggil dengan Danu. Seorang kapten tim basket sekaligus gitaris handal di sekolahku. Dia seorang yang cerdas dan tampan, walau terkesan dingin dan misterius. -Kita tak akan pernah tahu sifat aslinya, jika kita tidak mengenal dia dengan baik- Tapi itulah yang menjadi daya tariknya. Tak berbilang perempuan di sekolah yang berhasil terpikat olehnya. -termasuk diriku-
Namaku Rana. Gadis kutu buku yang juga suka bermain piano. Bagiku, kedua hal itu ampuh mengusir kesendirianku yang kerap melanda. Aku juga suka menulis puisi. Sehingga disekolah, akupun ikut dalam kepengurusan mading. Banyak sekali dari puisi-puisiku yang terinspirasi dari sosok Danu. Danu?
Ah iya Danu. Lelaki yang berhasil memikat hatiku sejak pertama kali aku bersekolah dijenjang putih abu ini. Memang terkesan terlalu cepat, tapi itulah kenyataannya. Sempat disatukan dalam satu kelas selama kelas sepuluh dengannya. Namun itu tak membuat aku berani mengatakan perasaan ini. Atau mungkin sekedar bisa dekat dengan dirinya. Selama ini, kedekatanku dengan Danu hanya sebatas mengerjakan tugas kelompok atau berbincang biasa layaknya teman. Tak ada yang spesial. Tapi itu tak membuat perasaan ini hilang, malah semakin bertambah.
Aku bisa mendapatkan informasi-informasi tentang Danu dari Raisya. Dia adalah sahabat terbaikku sekaligus sahabat Danu. Raisya dan Danu sudah berteman sejak kecil. Sehingga Raisya amat dekat dengan Danu. Aku bisa tahu info tentang pertandingan basketnya, jadwal manggungnya, sampai nomor sepatunya dari Raisya. Hanya Raisya tempatku mencurahkan segala perasaanku kepada Danu. Hanya dia yang aku percaya. Dan karena dia pulalah akhir-akhir ini aku mulai dekat dengan Danu.
***
Danu : PING!!

Aku hampir tersedak membaca layar ponselku. Untuk beberapa detik aku tatap layar itu dan tak salah lagi Danu yang mengirimnya. Cepat-cepat aku membalas.

Rana : PING!!
Danu : ran, kok sendiri aja. Biasanya sama Raisya. kemana dia?

Aku memang sedang dikantin saat ini. Dan biasanya itu dengan raisya. Tapi karena hari ini dia tidak masuk, alhasil aku sendiri. Tapi kenapa danu jadi perhatian seperti ini? -ah ran, cuman begitu aja kok udah terbang sih- tenangku dalam hati.

Rana : oh iya, raisya hari ini ga masuk. Sakit katanya.
Danu : sakit apa?
Rana : katanya sih demam. Hari ini mau cek ke dokter.
Danu : oh gitu, makasih ya ran. Gue duluan.
Rana : iya sama-sama. Oke 😉

Begitulah kelanjutan obrolan ku dengan Danu. Aku melihat ke sekeliling kantin mencoba mencari Danu, tapi aku tidak menemukannya. Dimana dia? Kok dia bisa tahu kalau aku sendiri disini, Sedangkan dia tidak ada disini? -ah ran sudahlah- batinku kembali.

*bersambung* ^^

Rahasia Hati

–Kau yang membuatku merasakan hal yg berbeda di manapun aku berada–

kini, aku terduduk santai di teras kelas. Menatap kagum ke lapangan yang sedang ramai dengan pertandingan basket. Mataku tak hentinya mengikuti setiap pergerakannya yang dengan lincah memainkan bola basket. Ya, dia sang pujaan hati. Aku hanya bisa menatap kagum padanya. Untuk meneriaki atau sekedar memberi semangatpun rasanya lidahku kelu karna malu. Aku tidak seperti wanita-wanita lain yang dengan mudah mengungkapkan rasanya. Rasa ini hanya akan ada dalam diam.

–Kau yg selalu mencuri perhatian ku disetiap langkah yg aku tuju–

sore itu, dengan suara khas dan petikan gitarmu yang lembut, kau mampu alirkan pesan damai pada semua yang mendengarnya. Kau iringi setiap langkah para siswa yang mulai beranjak pergi meninggalkan sekolah -Termasuk aku- Sadarkah kau, jika sedari tadi ada yang menatapmu dengan ingin? Keinginanku untuk bergabung dan melantunkan lagu damai bersama, nyatanya hanya aku lambungkan dalam angan. Kali ini kau berhasil lagi menarik perhatianku. *Ah, bukannya setiap yang kau lakukan selalu saja terlihat menarik olehku*
Kini ku hanya bisa menikmati pesan damai itu dalam hening. Pesan yang mampu membuat rasa ini semakin menjadi. Yang membuat aku tak bisa lepas dari angan yang membumbung hingga ke langit ini.

*next post*